Tips traveling bersama anak toddler

Since kami hampir selalu traveling bareng Gi, anak kami yang baru berumur 5 tahun. Dari mulai yang deket2 keluar kota naik mobil, nyebrang antar pulau naik ferry, pindah2 kota naik kereta atau bus, short flights sampai long flights seharian. Banyak banget yang melontarkan pertanyaan ke kami, kok bisa sih enjoy traveling bawa anak? apa nggak repot? Sebenernya sama aja sih kaya sehari-hari dirumah, karena kami full mengurus Gi sendiri, cuma sedikit lebih cape karena out of our comfort zone. By the way, Gi mulai traveling dari umur 1,5 bulan, dan mulai kami ajak long flight dari umur 1,5 tahun. Dan setiap tahun dari umur 1-5 challenge nya beda2. Berikut, gw bakal sedikit cerita pengalaman kami dari tahun pertama sampai tahun ke 5.

First year – Disclaimer dulu yah, ini bukan pakem, cuma menurut pengalaman kami aja, dan ga semua anak bisa menggunakan treatment yang sama. Waktu Gi umur 8 bulan, kami sempat ajak Gi jalan-jalan ke Gili trawangan, ini sih bener-bener salah langkah banget, waktu itu pas Gi mpasi. Repotnya bawa-annya banyak, sampe bawa gerusan segala, dan menyempatkan diri belanja di pasar beli buah-buahan. Daaannn.. for your information 5 tahun lalu di Gili trawangan ga banyak restaurant yang menyediakan baby chair. Tadaaa.. jadi makannya gimana? dipangku gantian, pelayan-pelayan restaurant disana udah ngerti banget dan berinisitif buat gendongin anaknya selama kami makan. Jadi kalo ke Gili dengan baby jangan heran kalo mereka menawarkan diri untuk gendongin anak kalian πŸ˜€ Oh dan yang ngga kalah seru, adalah naik bumpy ferry dari bali ke Gili dan Gi bobo aja gitu di gendongan. Naik delman pun juga bobo ajah :D. trus kalo flight gimana? selama masih nyusu sih enak banget, yang paling enak adalah pas 0-6 bulan, tinggal kasih asi aja beres, terutama during take off atau landing. 6 bulan pertama sih masa-masa paling kami rekomendasikan untuk ajak bepergian.

Second year – Sebenarnya kami ga pernah berpikir untuk traveling jauh sih, dibayangan kami, mungkin setelah Gi 2 tahun atau kalo kami udah benar-benar suntuk hidup tanpa traveling πŸ˜€ But.. Thanks to one of our beloved couples, Ray & Ria yang sudah memboyong kami sekeluarga ke Jepang dan notabene jadi pertama kalinya Gi flight panjang. Dan karena hal ini juga, ibu bapaknya jadi membuktikan kalo ketakutan bawa anak yang selama ini dipikirkan tidak terbukti! Sukses besar, anaknya enjoy dan happy aja di dorong-dorong di stroller atau bahkan digendong sambil lari-lari untuk mengejar kereta. Walaupun, sempat juga punya balada keluar hotel lupa pakai jaket, padahal udah 16 derajat, sampe biru semua tangan Gi ( -____-!) dan kehabisan pampers. Fyi guys, cari pampers dengan quantity tanggung di jepang susah, antara beli per 1 buah atau 1 pack besar, dan ga jual di supermarket tapi di dept store khusus menjual perlengkapan bayi. Dan, setelah kesuksesan ini, 6 bulan kemudian kami langsung pergi lagi explore east europe dengan Gi. Mumpung tiket pesawatnya belum bayar full. πŸ˜€ oh ya, kalo jepang kan aman yah banyak mainan lucu, makanan lucu, kids friendly (lift dimana2), pedestrian besar, makannya masih nasi, kalo di europe setiap 2-3 hari sekali kami harus cari makan asian food, karena Gi waktu itu belum begitu suka roti-rotian, atau daging2an, siap2 deh pulang-pulang timbangan pasti turun. Dan East europe ini rata-rata kota yang kami kunjungi medannya lebih sulit dibanding di Jepang. Misalnya, di beberapa kota kami harus gotong-gotong stroller turun atau naik tangga karena tidak ada lift munuju ke subway, di berbagai restaurant jarang menemukan baby chair dan tidak menyediakan non smoking room, juga ada di beberapa kota yang jalannya paving-an guys! jadi Gi vibrate di stroler. wahaahahha.. Ini salah satu kami pilih stroller merk Aprica, karena ringan, mudah dilipat dan dibawa, gausah kuatir ketinggalan kereta, 1 detik aja pake 1 tangan lipetnya, dan suspensi rodanya bisa menyesuaikan dengan kontur jalan.

DSC02484

– Stroller andalan –

Third year – Jogja, Bali dan Jepang. Di tahun yang ke tiga ini enaknya kami udah ga perlu bawa gendongan lagi, Gi sudah bisa duduk di stroller tanpa bosan dan minta gendong. Salah satu triknya adalah selalu siap sedia mainan, atau kalo di jepang banyak banget gatcha yang murah2 (sekitar 20,000) kami suka main gatcha ini untuk mendistract kebosanan Gi. Karena Gi suka banget Thomas and friends, dan kami pun suka banget sama Jepang, kami memutuskan untuk kembali ke Jepang untuk merayakan ulang tahun Gi yang ke 3 di Thomas Land, Jepang. Dan kali ini ga ada balada kehabisan pampers, karena Gi sudah lepas pampers day and night, cuma karena ketakutan ibu yang berlebihan, kami tetap bawa 4-5 buah pampers untuk jaga-jaga kalo-kalo Gi mendadak pengen pipis di jalan. Oh ya, kami juga sempat ke bali dan menghabiskan akhir taun di jogja, waktu di jogja bahkan Gi kami bangunkan jam 3 subuh untuk lihat sunrise di borobudur. Salah satu kunciannya adalah ga boleh kekurangan snack! Gimana caranya sih kok mau bangun jam 3 subuh? digotong aja guys! Plus dibilangin malam sebelumnya kalo bsk pagi2 kita mau adventure, cipatakan cerita-cerita seru supaya dia excited. Kalo dibilangin kita bangun pagi mau liat matahari, batu2 dan stupa2 disusun2, yaaaa anaknya juga males.. πŸ˜€

Fourth year – Di tahun ke 4 Gi jalan-jalan ke sumba, bromo dan balik lagi ke sumba dan United kingdom. Ok, 3 tempat ini punya medan yang benar-benar berbeda, dan treatmentnya juga berbeda, pertama, sumba, transportasi menggunakan mobil kemana-mana, jadi cukup aman, Gi bisa makan, minum tidur dengan bebas, dan sempat muntah karena kelamaan di jalan dari sumba timur ke barat. Ga ada playground, but nature is our playground, Gi senang banget bisa ketemu banyak teman2, bantuin angkat pasir untuk bangun rumah, main karet dan tebak2an diatas gunung. Yang perlu disiapkan adalah baju renang,Β  baju ganti serta kayu putih dan semprotan caplang. Nah kalo di bromo, Gi juga bangun jam 3 subuh buat liat sunrise, trip ini aman banget karena ada temen seumuran yang ikut trip ini bersama kami. Jadi ibu bapak bisa agak santai biarin anaknya main sendiri. Next, Gi merayakan ulang tahunnya yang ke 4 di Thomas land, Drayton manor, England. Umur 4 bocah ini udah mulai banyak maunya sih, strollernya udah mulai ngga kepake, dia lebih suka jalan sendiri, dan stroller jadi tempat buat taro tas doank. kalo cape Gi bahkan bisa naik turun strollernya sendiri. Again, karena pengalaman di East europe 2 tahun lalu, di jakarta kami mentraining gi untuk makan burger, fries, dan spaggeti biar nggak norak. Btw, diatas gw sempat mention bawa pampers hanya untuk jaga2, end up ngga kepake guys, anaknya udah ga terbiasa pake pampers dan gamau pipis di pampers, diajarin pipis di botol juga ga pernah sukses, alhasil pernah pas di sumba Gi kebelet pup, dan ga ada wc di pantai tersebut. Jadilah Gi pup di bawah pohon dekat semak2 πŸ˜€ gapapalah yah bisa jadi pupuk kompos. ahahhaha..

Fifth year – Last year as a toddler, Gi mengunjungi India, Canada dan singapore. Di tahun ke 5 ini, kami sudah ngga pake stroller sama sekali. Di india, kami memang menggunakan mobil kemana-mana, di canada half of the trip juga pake mobil, di singapore, full dengan public transport. Mengeluh cape jalan itu sudah pasti, terutama di singapore, karena cuacanya panas, Gi sering ribut cape, dan waktu kami kemarin sempit banget, jadi hampir setiap hari kami pergi dari pagi sampai malam, Gi sampai tidur-tidur dimana2, sebaiknya kalo sudah tidak pakai stroller, memang disiapkan waktu traveling yang lebih lama, mengingat anak umur 5 tahun jalannya ga secepat kita pastinya, dan banyak distractionnya. Dan perlu dicatat, kalo di canada kalian berencana road trip by car, untuk anak umur 5 tahun dan dibawahnya diwajibkan menggunakan booster atau car seat, kalo di India, sama aja seperti di Indonesia, Gi bahkan bisa berdiri2 di mobil. Jadi gimana kalo ngantuk atau cape? kami cenderung lebih santai setelah traveling tanpa stroller, kalo cape biasanya cari tempat untuk ngopi dan duduk biar Gi bisa istirahat. Traveling jauh lebih mudah setelah kami memutuskan untuk tidak bawa stroller. Bahkan Gi bisa membantu kami membawa koper. Dan di umur 5 tahun ini, anak sudah mulai punya preference dan opini sendiri, jadi udah mulai bisa bosan kalo harus menemani kami berbelanja. Ada baiknya, selalu beritahukan apa saja yang akan dilakukan di hari tersebut, dan sebaiknya selipkan beberapa activities untuk anak di itinerary kalian. Setelah ini, Gi berencana jalan-jalan lagi, sebelum stengah tahun lagi Gi masuk kategori kid dan bayar tiket masuk objek wisata. πŸ˜€ any suggestions guys?

 

Sedikit tips dari kami, untuk memudahkan traveling, dan bisa enjoy secara maksimal perjalanan tersebut tanpa harus kerepotan karena anak yang rewel:

  1. Latihlah untuk mandiri dari rumah. Gi kami biasakan untuk tidak serba dilayani.
  2. Biasakan anak untuk tidak terus menerus berada di zona nyamannya.
  3. Ceritakan kalian akan kemana, buat cerita tersebut menjadi hal yang excited untuk mereka, ada baiknya kalian memang start dengan tujuan wisata yang memang anak kalian pasti suka, misalnya kami sengaja cari destinasi yang ada Thomas land karena Gi suka banget thomas. Sambil dikasih lihat gambar-gambar atau video thomas land, dan dibilangin kalo dia harus behave selama traveling, sebelum ke thomas land (memang biasanya kami tempatkan di akhir trip).
  4. Last, orang tuanya juga harus santai, jangan rempong, karena anak akan baca energi orang tua. Usahakan kita terlebih dulu enjoy trip tersebut.

 

Selamat mencoba! xx

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s