Traveling while covid-19 outbreak

Hai, Kali ini kepergian kami ke Turkey membawa sebuah cerita yang buat kami cukup berharga. Pasalnya kali ini kami pergi dimana dunia sedang menghadapi pandemic global yaitu wabah covid-19. Buat kami, ini bukan pertama kali kami pergi ke negara dengan resiko keselamatan yang cukup tinggi. Dulu pernah pergi ke Thailand dimana Bangkok sedang berlangsung kerusuhan besar-besaran, sampai kami memutuskan untuk mengcancel penerbangan kami. Dan baru tahun kemarin kami pergi ke Peru dimana negara tersebut juga sedang tidak kondusif. Karena kami terbang lewat US, kami sempat membaca notifikasi bahwa ada travel warning yang di keluarkan US untuk warganya tidak traveling ke Peru. Dan seminggu sebelum keberangkatan kamipun, kami sempat membaca berita bahwa ada bus wisata yang terblok pendemo, terperangkap di dalam bus selama 3 hari 3 malam. Dan waktu kami disanapun, tour guide kami di bus memperingatkan kami hal yang sama, untuk sedia makanan dan minuman yang cukup banyak untuk berjaga2 kalau-kalau bus kami mengalami hal serupa. Untungnya kami kemarin lancar tanpa kurang suatu apapun. Belum lagi kalau kami mengingat sebenarnya perjalanan-perjalanan kami lainnya yang tidak lepas dari bermacam resiko. Hanya bedanya, 3 hal diatas kami sudah mengetahui terlebih dahulu ada kemungkinan buruk yang akan menimpa kami selama traveling, sedangkan yang lainnya terjadi tanpa kami ketahui sebelumnya.  Let’s start!

Before traveling

Sedikit cerita, tiket turkey ini kami beli dari tahun lalu pada waktu promo. Dan untungnya kami bukan orang yang menyiapkan itinerary dari jauh-jauh hari. Begitu kami mendengar virus covid19 ini outbreak dan mulai menyebar ke negara lain, pada saat itu sekitar pertengahan bulan february, kami memutuskan untuk hold semua pembelian domestic flight, hotel, balon udara, bus dsb. Yang sudah kami proses pada saat itu hanya e-visa Turkey dan free visa transit di UAE.

Cek status penerbangan – Sekitar 11 hari sebelum kami berangkat, Indonesia mengumumkan 1 orang pasien pertama positive covid-19. Yang kami lakukan pada waktu itu adalah mengecek apakah tiket kami free refund (sayangnya tiket kami tidak free refund karena kami beli promo) kami juga mengecek apakah free reschedule (hampir semua maskapai memberlakukan ini pada masa2 ini untuk penerbangan yang di suspend saja) dan tiket kamipun pada saat sebelum kami berangkat tidak dapat di reschedule dengan alasan penerbangan kami masih aman untuk dilakukan karena kedua negara pada saat itu masih cukup kondusif. Terakhir kami mengecek status flight kami adalah 1 hari sebelum keberangkatan kami, dimana turkey masih tidak ada report positive covid, sedangkan indonesia belasan orang yang sudah ter-report positive covid.

Memantau berita resmi dari pemerintah – Memantau berita terkini dan perkembangan covid 19 setiap harinya jujur membuat kami paranoid, dari ga sakit sampai jadi merasa sakit, batuk tambah parah, mual, muntah, dan sebagainya. Inilah sebabnya kenapa penting banget untuk memilah apa yang kita dengar. Sangat sadar bagaimana media dapat sehebat itu menggiring opini publik, dari nyokap yang biasanya ngga pernah komen mau traveling kemana, sampai menganjurkan kami untuk tidak pergi. Padahal kepergian kami taun lalu ke Peru sebenarnya sama menyeramkannya dengan kepergian kami kali ini. Sebenarnya, kesempatan untuk tertimpa musibah selalu ada, hanya bedanya berita Para demostran di Peru tidak sampai ke Indonesia. Pada hari H kami berangkat kami mencari informasi yang akuntabel tentang instruksi pemerintah ke 3 negara (indonesia, turkey dan UAE) , dan sampai detik terakhir keberangkatan kami, mereka belum mengeluarkan statement apapun terkait overseas travel. Akhirnya karena tidak ada rambu merah untuk tetap jalan serta menimbang berbagai resiko. Kami memutuskan untuk tetap berangkat dengan hati was-was.

Menimbang resiko dan protokol yang harus dilakukan setelah traveling – Tentunya kami ngga mau bawa penyakit ke negara orang, maka sebelum pergi karena Yunita batuk, kami sempat ke dokter dan mengecek apakah ada pneumonia atau tidak. Dan tentunya kami juga ngga mau bawa oleh-oleh penyakit ke negara sendiri. Ibaratnya resiko buruk atas keberanian kami, kami siap tanggung sendiri. Yang tidak terpikirkan adalah ketidaksiapan negara ini, kekurangan APD dan tenaga medis yang rentan untuk menjadi korban, sehingga 1 pasien saja berpengaruh besar.

While traveling

Di perjalanan menuju airport, kami sempat mendengar berita kalau pasien positif covid-19 di Indonesia melonjak 2x lipat menjadi 36-orang, sedangkan di Turkey baru mengumumkan satu kasus pertamanya. Setibanya di Soekarno Hatta airport, Airport tampak lenggang pada saat itu, mungkin karena memang kami juga terbang tengah malam. Di check in counter, petugas menanyakan kami apakah 14 hari terakhir kami pernah pergi ke Iran, South Korea, Italy atau China? petugas check in pun memberitahukan pada kami bahwa banyak yang cancel dan flight kami pada saat itu hanya sekitar 100 penumpang. Selama di pesawat ternyata banyak juga yang batuk dan memakai masker. Kami transit di Abu dhabi dan situasi airport di abu dhabi lebih ramai dibanding di jakarta, flight kami abu-dhabi istanbul pun lebih penuh. Sebelum kami tiba di Istanbul, kami diminta untuk mengisi form kesehatan. Setibanya di imigrasi Istanbul, petugas hanya memeriksa paspor dan form kami, tanpa ada pemeriksaan kesehatan tambahan.

Di Istanbul orang-orang masih beraktifitas normal seperti biasa. Toko-toko masih ramai dan taksim square pun masih ramai. orang bahkan tidak memakai masker, hanya kami yang memakai masker dan kami rasa, kami lah satu-satunya turis asia tenggara disana 😀 bahkan karena kami satu-satunya turis dan kami memakai masker pula, kami sempat mengalami verbal bullying, ada segerombolan anak muda yang memanggil kami corona. Well, ini sebuah perilaku yang tidak patut dicontoh ya.

Hari pertama sampai hari ke 3 kami di Istanbul, semua masih berjalan normal. Semua terlihat aman-aman saja di Turkey, Hagia Sophia masih ramai, Blue Mosque juga masih ramai. Sampai kami terbang ke pammukale pun terlihat baik-baik saja, hanya di hotel tempat kami menginap di pamukkale semua pelayan memakai masker. Toko-toko tampak lenggang, objek wisata juga tidak banyak turis.

Setelah kami stay satu malam di pammukale, tiba-tiba jam 4 subuh salah satu teman yang traveling bersama kami kasih kabar kalau seorang temannya memberitahukan kepadanya bahwa flight pulang kami di cancel oleh pihak maskapai. Kami langsung cek ke website resmi maskapai tersebut (karena status penerbangan kami di aplikasi ; kami beli di traveloka, masih aman, sedangkan kalau cek di web, status flight pulang sudah hilang, tapi tidak ada notifikasi maupun email pemberitahuan apapun mengenai info terkait dari maskapai maupun dari traveloka. email tersebut baru kami terima 1 hari sebelum tanggal rencana kepulangan awal kami. Ternyata flight dari dan ke negara-negara arab sudah di suspend sejak 1 hari setelah tanggal kami tiba di Turkey. Karena menurut berita lokal yang kami baca, satu hari setelah kami tiba di Turkey, mereka kedatangan 10,000 jemaah haji dan banyak yang ODP dan dikarantina di ankara, konya, dan kayseri. Hal lainnya yang kami cek tentu saja update kasus dunia di worldometer, dan kami menemukan fakta bahwa kasus di Indonesia dan turkey sudah semakin gawat. Pada hari itu, Indonesia sudah masuk zona 1 dan sudah memulai pembatasan sosial sejak 1 hari yang lalu. Sedangkan di Turkey sudah masuk zona 2 dalam waktu 3 hari saja, dan pemerintah Turkey per hari tersebut juga mulai melakukan pembatasan sosial. Warga dianjurkan untuk stay di rumah. Untuk mendapatkan insight, kami mencoba untuk menelpon KEDUBES RI untuk Turkey di ankara (nomor ini memang sudah kami safe dari sebelum kami berangkat untuk jaga-jaga). Jam 9 pagi, begitu kedutaan buka, kami langsung berbicara dengan perwakilan disana. Rasanya lumayan damai begitu mendengar salam berbahasa indonesia. Orang kedutaan menganjurkan kami untuk mengikuti social distancing / stay di hotel saja selama di Turkey. Jika perlu pergi ke airport, pastikan memakai masker dan sarung tangan. Mereka tidak bisa memberikan info apakah nantinya flight turkey indonesia akan tetap aman, yang pasti mereka menghimbau kami untuk tidak berada di tempat keramaian.

Setelah telpon KBRI, kami memutuskan untuk segera pulang ke Jakarta dengan flight direct dalam waktu terdekat, pasalnya tidak ada lagi alasan untuk tetap berkeliaran di tempat umum. Bahkan salah satu teman kami sudah beli tiket langsung pada jam 4 pagi setelah mendapat kabar pesawat kami di suspend. Padahal hari itu seharusnya kami melanjutkan perjalanan kami ke Cappadocia, yang merupakan highlight perjalanan kami ke Turkey. Untuk ke Cappadocia kami harus stop di Kayseri yang merupakan salah satu daerah pandemic. Bayangkan betapa baiknya Tuhan!

Beli tiket baru bukan perkara mudah. Taukah kalian kalau transaksi online di luar negeri paling mudah dengan credit card bukan? dan untuk bertransaksi lewat credit card diperlukan konfirmasi OTP lewat SMS, yang berarti nomor indonesia harus aktif dalam hal ini. Salah satu teman kami meminta tolong saudaranya yang di Indonesia untuk membelikan tiket baru. Nah, untungnya kartu telkomsel Glenn bisa nyala di Turkey! walaupun agak sulit namun akhirnya kami berhasil membeli 2 tiket pulang (pamukale – istanbul dan istanbul – jakarta). Rasa deg-degan-nya seperti sedang menonton pertandingan bola, karena flight dari pamukkale ke istanbul tidak banyak. Gambling antara salah satu flight tidak dapat seat, dan kami harus beli hotel baru lagi untuk stay di istanbul atau di pammukale. Sejujurnya kami menghindari mengeluarkan expenses tambahan yang tidak diperlukan. Harga flight Istanbul – Jakarta cukup mahal dan di 2 hari kedepan full scheduled. Akhirnya sambil berdoa dan tetap berusaha, kami dapat tiket pulang!

After traveling

Sesuai anjuran, di airport pun kami melakukan physical distancing. Suasana hari itu di Istanbul airport tidak begitu padat karena 70-80% penerbangan di cancel. Namun, pesawat yang kami naiki ke Jakarta masih cukup padat. Hampir sama seperti keberangkatan, sewaktu di pesawat pramugari memberikan health form untuk diisi sebelum tiba di Indonesia. Dan nantinya kartu tersebut akan diberikan ke petugas kesehatan bandara. Pertanyaannya kurang lebih tentang data diri dan riwayat kesehatan selama perjalanan. Bedanya, pada waktu check in di Istanbul airport, kami tidak ditanya apakah 14 hari terakhir punya perjalanan ke negara terjangkit.

Setibanya di tanah air, kami langsung disambut oleh petugas kesehatan bandara yang mengecek suhu tubuh kami, lewat thermal scanner dan termometer digital. Dan kami diminta untuk menyerahkan kartu kesehatan yang sudah kami isi. Waktu itu pada petugas bandara, kami menginfokan kalau Yunita punya salah satu gejala covid 19. Karena suhu tubuh pada saat itu hanya 36,4 C. Petugas memberikan aba2 untuk lewat, sambil memberikan info nomor yang dapat dihubungi apabila dalam 14 hari kedepan gejala bertambah parah. Dan dianjurkan untuk pergi ke rumah sakit terdekat dahulu apabila gejala semakin parah, sambil berujar “sehat selalu ibu”. Di imigrasipun physical distancing diberlakukan, antri harus 1 meter dan ada petugas yang secara konsisten meneriaki untuk jaga jarak.

Keesokan harinya, karena Yunita punya gejala dan kami tidak mau hidup dalam paranoid selam 14 hari kedepan, kami memutuskan untuk lebih baik swab test agar tenang. Langkah pertama , kami langsung menghubungi nomor telepon di health form kami, dari nomor tersebut mereka menginfokan untuk menghubungi pusat covid-19 di 119 ext 9. Namun, nada selalu sibuk atau bahkan kadang tidak bernada. Langkah selanjutnya kami menghubungi rumah sakit rujukan untuk covid terdekat, yang lagi-lagi tidak ada yang mengangkat. Tidak berhenti sampai disitu, bersyukur banget punya teman-temang yang selalu mendukung dan memberikan banyak informasi. 3 hari setelah kepulangan, salah satu teman memberikan kami info apotik yang bisa rapid test covid-19 tanpa harus ke rumah sakit. Langsung kami booking pada saat itu juga karena takut kehabisan slot. Mereka berjanji akan menghubungi kembali jadwal test kapan bisa dilakukan dan mereka baru memberikan kabar jadwal test-nya 2 minggu setelah kami booking. hahahaha.. Kenapa tidak ke rumah sakit? karena baca berita dan dengar cerita teman yang mau test juga, juga dari beberapa teman dokter yang memberitahukan antrian di RS cukup panjang, sebaiknya memang kalau tidak demam tidak usah ke rumah sakit dulu. Tentu saja isolasi mandiri atau protokol covid-19 untuk orang yang baru pulang dari bepergian ke manca negara kami ikuti dengan sungguh-sungguh. kami benar-benar mengkarantina diri selama 14 hari, bahkan ART harian kami pun kami liburkan, delivery service hanya sampai depan pintu rumah saja. Kami benar-benar tidak ketemu orang lain selama 14 hari tersebut. Dan puji Tuhan, kami semua sehat walafiat! Batuk Yunita pun sembuh di 5 hari pertama dengan konsisten minum vitamin C dan probiotik untuk lambung.

Epilogue

Buat gw pribadi, pengalaman yang di dapat dari traveling kali ini jauh lebih berharga dari nilai nominal yang kami keluarkan. Tidak ada kata menyesal sedikitpun untuk apa yang sudah kami alami. Jujur hal yang paling gw takuti adalah “mati bego”, that’s why kali ini gw taat banget sama aturan yang berlaku. Karena buat gw, aturan itu ibarat safety net, batasan2 yang dibuat demi keselamatan kita semua.

Kalau ditanya takut, gw takutnya banget-banget. Bukan takut mati, karena gw sadar banget penyakit dan kematian adalah hal yang tidak dapat dihindari. Hidup sehat tidak menjamin seberapa panjang umur kita. Sebut saja olahragawan dunia dan artis yang terkenal hidup sehat yang baru meninggal di awal tahun. Don’t get me wrong, gw tidak menyarankan kalian untuk hidup sembarangan dan menyia-nyiakan hidup kalian ya. Ini konteks yang berbeda.

Ketakutan gw ini ditambahi lagi dengan berita-berita yang gw baca setiap harinya dan opini orang-orang sekitar. Seolah-olah kepergian kami adalah sebuah kesalahan. Di titik ini, gw bertemu Sang pencipta, gw mendengar suaranya yang lembut berkata “Jangan takut, sebab Aku menyertai engkau, janganlah bimbang sebab aku ini Allahmu”. Again, di suatu siang alunan lagu “.. aku punya Tuhan yang besar..” mampu membuat gw berderai air mata. Gw lupa gw punya Tuhan yang jauh lebih besar dari covid-19. Untuk pengalaman ini, pengalaman lebih mengenal lagi sang Pencipta, ga ada sedikitpun kata menyesal.

Besok, tepat sebulan setelah kepulangan kami ke tanah air. Fakta bahwa kami ber 5 dalam keadaan sehat dan tidak ikut menyumbang angka pasien terjangkit covid di Indonesia, membuat kami tak henti2nya mengucap syukur.

Sekaligus tak henti-hentinya berdoa untuk tenaga medis, orang-orang yang tetap harus bekerja demi kelangsungan hidup masyarakat banyak, berdoa untuk tanah airku Indonesia, berdoa untuk dunia, semoga pandemic ini cepat berakhir.

Amin.